Pelaku ke-11 adalah Mahasiswa Tersangka Rudapaksa Siswi SMP di Buleleng Bertambah

Seorang siswi kelas VIII SMP asal Buleleng, Bali, awalnya dikabarkan dirudapaksa oleh 10 orang. Ternyata gadis malang itu dirudapaksa oleh 11 orang dan pelaku yang terakhir tertangkap adalah mahasiswa. Satu tersangka baru ini diketahui bernama Kadek CY (18).

Kasat Reskrim Polres Buleleng, AKP Vicky Tri Haryanto ditemui Jumat (13/11/2020) mengatakan, berdasarkan hasil pengembangan kasus, Kadek CY yang merupakan warga Buleleng ini terbukti sempat menyetubuhi korban, pada Minggu (11/10/2020) malam, sekira pukul 21.00 Wita, di sebuah gubuk yang berada di areal perkebunan. Pria yang masih duduk d ibangku kuliah ini kemudian ditangkap oleh polisi pada Rabu (11/11) dan ditetapkan sebagai tersangka pada Kamis (12/11) kemarin. "Jadi berdasarkan hasil pendalaman kasus, kami menemukan adanya satu orang tersangka baru bernama Kadek Candra Yasa ini.

Dia terbukti sempat mengajak korban ke sebuah gubuk, lalu menyetubuhinya satu kali," ucap AKP Vicky. Apakah ada kemungkinan jumlah pelaku akan bertambah lagi? "Kami secara bertahap melakukan pemeriksaan terhadap korban, untuk melakukan sinkronisasi antara pengakuan korban dan para tersangka. Jadi nanti akan kami lakukan pendalaman lagi, apakah jumlah tersangka masih akan bertambah atau tidak.

Sejauh ini total tersangka sudah ada 11 orang. Yang ditahan empat orang, dan tujuh lainnya masih dibawah umur jadi hanya wajib lapor dan diberi pembinaan," jawab AKP Vicky. Sementara tersangka Kadek Yasa mengaku nekat menyetubuhi korban, lantaran termakan hasutan dari teman temannya. "Karena hasutan teman," singkatnya.

Akibat perbuatannya, Kadek Yasa pun dijerat dengan pasal 81 Undang Undang RI Nomor 35 tahun 2014 dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun. Kendati pihak kepolisian telah berhasil menangkap para pelaku, korban persetubuhan yang masih duduk di bangku kelas VIII SMP asal Kecamatan Buleleng, hingga saat ini masih diberikan pendampingan psikolog. Pasalnya, hingga saat ini korban masih memiliki rasa trauma jika bertemu dengan orang asing utamanya laki laki yang tidak ia kenal.

Anggota Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) Perlindungan Anak, Bella Savira Fitriana mengatakan, kondisi psikis korban saat ini sejatinya sudah mulai stabil. Bahkan mulai bisa bercanda dengan keluarganya, serta mulai ikut pembelajaran sekolah secara daring. Namun demikian, pihaknya tetap ingin memastikan agar korban mendapatkan dukungan baik oleh keluarga maupun lingkungannya, untuk menjaga kestabilan psikis korban.

“Sekarang kami masih melakukan home visit, kami akan melihat bagaimana situasi di rumah dan lingkungannya. Sampai saat ini korban juga takut ketemu orang yang tidak dikenal apalagi laki laki. Dia juga masih takut berkomunikasi dengan teman temannya, karena temannya selalu menanyakan tetang kejadian yang menimpa korban,” ucapnya. Bella pun mengakui, selama melakukan pendampingan, pihaknya juga menemukan masalah baru. Di mana, ibu korban sebut Bella, kini juga merasa syok atas kejadian yang menimpa anak kandungnya itu.

“Ibu korban sampai saat ini masih menangis, dia juga syok dengan kejadian yang menimpa anaknya . Ini jadi PR kami juga untuk memberikan konseling,” terangnya. Sampai kapan psikis korban bisa betul betul pulih? Bella menyebut, berdasarkan hasil hitung hitungan pihaknya, tingkat trauma korban berada di skor 65 70.

Artinya pemulihan bisa cepat dilakukan, dengan catatan lingkungan disekitar rumahnya, maupun teman teman di sekolahnya ikut mendukung korban melupakan kejadian tersebut. “Lingkungan harus punya pikiran positif kepada korban. Kalau lingkungan punya pikiran negatif itu akan membuat korban jadi down lagi. Lingkungan harus berpikiran positif, jangan ungkit kejadian yang menimpa korban kemarin.

Kalau diungkit, emosi korban pasti bergejolak lagi karena dia ingat dengan kejadian pahit yang dialami. Jangan sampai korban merasa sudah tidak punya harga diri, takutnya nanti jadi lebih depresi,” jelas Bella. Ia juga tidak menampik, saat ini banyak masyarakat yang bertanya tanya mengapa korban bisa menghilang selama dua hari, bahkan sempat menginap di rumah salah satu pelaku. Di hari pertama, sebut Bella, korban memang kehabisan bensin dan tidak bawa uang.

Kondisi itu yang bikin korban bingung. Hingga akhirnya menghubungi pacarnya. Namun oleh sang pacar korban justru diajak ke rumah temannya yang korban sendiri tidak kenal. Sehingga korban akhirnya disetubuhi oleh beberapa pelaku. “Usai kejadian itu korban mau pulang, tapi para pelaku menakut nakuti korban katanya pulang malam pasti dimarahi oleh ibunya.

Sehingga korban akhirnya mau menginap di rumah pelaku itu. Ini masih kami selidiki lagi, kenapa korban bisa takut sama ibunya sendiri, ketimbang dengan laki laki yang tidak dia kenal. Ini masih kami analisis, apa mungkin ibunya sosok menakutkan bagi korban sehingga dia mau menginap di rumah pelaku,” kata Bella. Bagaimana dengan tujuh pelaku yang masih dibawah umur? “Sesuai sistem peradilan pidana anak, mereka dipulangkan sementara ke orangtuanya.

Namun ke tujuh pelaku yang masih dibawah umur ini nanti akan ditangani oleh Bapas Denpasar untuk diberi bimbingan dan diteliti sanksi apa yang akan diberikan,” jawab Bella.

Please Post Your Comments & Reviews

Your email address will not be published. Required fields are marked *