China Akan Pimpin Peluncuran 5G Global Bangun 670 Ribu BTS

Regulator Industri Tingkat Tinggi mengatakan pada Kamis kemarin bahwa China telah memenuhi target konstruksi tahunannya untuk 690.000 BTS 5G pada September 2020, tiga bulan lebih cepat dari jadwal yang ditargetkan. Laju konstruksi 5G di China saat ini semakin cepat, ini memungkinkan negara itu untuk mencapai target tahunannya lebih awal dari yang diharapkan. Seperti yang disampaikan Kepala Pengembangan Informasi dan Telekomunikasi di Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China, Wen Ku.

"China ingin membangun jaringan 5G dengan kecepatan yang lebih cepat dari jadwal, karena negara tersebut memasuki periode lead in dalam konstruksi 5G pada tiga tahun mendatang," kata Wen Ku. Dikutip dari laman Sputnik News, Jumat (23/10/2020), tanggapan itu muncul setahun setelah China mengumumkan rencana peluncuran dan komersialisasi 5G, yang mengarah pada perkembangan signifikan dalam industri telekomunikasi negara itu. Global System for Mobile Communications Association (GSMA) dalam sebuah laporan menyampaikan bahwa upaya tersebut mungkin saja akan membuat China mencapai posisinya sebagai pemimpin global dalam industri 5G, kontribusinya terhitung 70 persen dari semua jaringan 5G secara global pada tahun 2020.

Menurut dokumen tersebut, beberapa peluncuran smartphone 5G dari perusahaan China bersamaan dengan peningkatan konsumen China, telah meningkatkan permintaan 5G. Adopsi 5G juga diharapkan tumbuh sekitar 50 persen pada 2025. Untuk mendukung pergeseran generasi ini dan mendorong keterlibatan konsumen, operator China diharapkan menginvestasikan lebih dari 180 miliar dolar Amerika Serikat (AS) antara tahun 2020 hingga 2025 dalam belanja modal seluler, sekitar 90 persen diantaranya akan masuk pada jaringan 5G.

Terkait kendala yang dialami China saat ini adalah pelambatan penyebaran 5G global karena larangan 5G dan perang dagang dengan AS. Kabar ini muncul setelah sebuah laporan menemukan bahwa industri 5G global telah melambat karena perselisihan politik yang sedang berlangsung terkait persetujuan dan lelang telekomunikasi. Ini merupakan kekhawatiran yang lebih besar daripada kemunduran karena pandemi virus corona (Covid 19).

Negara negara seperti Inggris, Swedia, Australia, Selandia Baru, Jepang telah melarang peralatan Huawei dan ZTE dari pembangunan jaringan mereka. Hal ini tentu saja mendapatkan kritikan tajam dari China dan para eksekutif perusahaan tersebut. Perang perdagangan yang sedang berlangsung antara AS dan China membuat Huawei, ZTE serta puluhan perusahaan China lainnya masuk daftar hitam oleh Departemen Perdagangan AS.

AS mengklaim perusahaan perusahaan itu berisiko mengancam keamanan, hal ini memperburuk hubungan antara AS dan China ke posisi terendah dalam sejarah.

Please Post Your Comments & Reviews

Your email address will not be published. Required fields are marked *