var id = "07691bebece81cfd31ad63cc546ae05fb912384e"; class="post-template-default single single-post postid-490 single-format-standard saga-full-layout accessbar-disabled right-sidebar">

BNN Anggap Itu Masalah Ganja & Kratom Masuk Daftar Tanaman Binaan Kementerian Pertanian

Lewat Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 tentang Komoditas Binaan Kementerian Pertanian menyatakanganja (cannabis sativa)sebagai salah satu tanaman obat binaan Dirjen Hortikultura. Selain ganja, kratom (mitragyna speciosa) juga masuk ke dalam daftar 66 tanaman obat binaan Dirjen Holtikultura. Badan Narkotika Nasional (BNN) mempermasalahkan dua jenis tanaman tersebut.

Menurut Karo HumasBNNBrigjen Polisi Sulistyo Pudjo, kratom memiliki efek yang lebih berbahaya dari heroin dan telah dilarang di sejumlah negara. Meskipun saat ini belum masuk dalam UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, namun peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)telah melarang penggunaan kratom dalam berbagai produk makanan dan minuman. "Di negara negara asean sudah dikriminalisasi, jadi sebulan lalu sekitar 7 ton mitragyna speciosa bubuk, dari Kalimantan Barat itu ditangkap oleh otoritas Singapura," sambungnya.

Sedangkan untuk ganja yang masuk narkotika golongan I menurut UU Narkotika tidak diperbolehkan untuk kepentingan pengobatan. "Bahwa sesuai dengan Undang Undang 35 Tahun 2009, ganja itu masuk golongan I narkotika, artinya sesuai dengan Pasal 8 Undang Undang 35 bahwa ganja hanya boleh digunakan untuk kepentingan penelitian," Pudjo menjelaskan. Pudjo kemudian menyarankan Kementerian Pertanian untuk berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk melakukan kajian terkait hal ini agar tidak melanggar undang undang.

Diberitakan sebelumnya, Kementan memutuskan untuk mengkaji ulang Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020yang mencamtukan ganja menjadi tanaman obat. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Tommy Nugraha menerangkan, Kementan terlebih dahulu akan mendiskusikan kebijakan tersebut bersama BNN, Kementerian Kesehatan, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). "Kepmentan104/2020tersebut sementara akan dicabut untuk dikaji kembali dan segera dilakukan revisi berkoordinasi dengan stakeholder terkait (BNN, Kemenkes, LIPI)," kata Tommy dalam keterangannya, Sabtu (29/8/2020).

Padahal sebelumnya, Menteri PertanianSyahrul Yasin Limpomenetapkan tanamanganjasebagai salah satu tanaman obat komoditas binaanKementerian Pertanian. Ketetapan itu termaktub dalam Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020tentang Komoditas Binaan Kementerian Pertanian yang ditandatangani Menteri Syahrul sejak 3 Februari lalu. "Komoditas binaan Kementerian Pertanian meliputi komoditas binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Direktorat JenderalHortikultura, Direktorat Jenderal Perkebunan, dan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan," demikian bunyi diktum kesatuKepmen Komoditas Binaan, Sabtu (29/8/2020).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *